SEANDAINYA KITA MENYADARI BAHWA DI PUNCAK GUNUNG BATU SION DI YERUSALEM DITARUH BATU PENJURU BAGI UMAT YAHUDI - KRISTEN - ISLAM
Mungkinkah belum waktunya bagi umat Tuhan Allah semesta alam, Allah Yang menguasai kerajaan langit dan bumi, untuk merenungkan dan memikirkan bahwa tanah suci Yerusalem dan sekitarnya saat ini masih banyak menjadi reruntuhan yang belum dibangunkan lagi
Sesungguhnya perumpamaannya kota Sion atau Yerusalem seperti seorang puteri yang cantik tapi masih tidur pulas belum ada yang membangunkannya agar ia berbenah diri karena hari sudah siang
Bangunlah wahai Kota Sion atau Puteri Yerusalem, bukankah engkau dahulu perumpamaannya seperti seorang perempuan yang cantik jelita pujaan alam semesta karena engkau sempurna adanya
Namun sekarang engkau bagaikan seorang puteri yang cantik jelita namun terikat dan terkubur dalam debu dan abu karena beban-beban atau kuk yang berat di tengkuk lehermu dan ada jeratan di kaki dan tanganmu sehingga tetap terbaring dalam kesendirianmu
Sebenarnya engkau berteriak minta tolong, namun karena sangat lemah suaramu bagaikan suara burung merpati sehingga tidak terdengar ratapan dan tangisanmu
Tahukah engkau bahwa suara nyanyian yang merdu dari mazmur Daud, diringi gambus dan kecapi serta tarian rebana, maupun suara seruling yang nyaring akan membangunkanmu
Bangunlah wahai kota yang sunyi sepi ditinggalkan penduduknya, kota yang menjadi janda karena ditinggal suaminya, kota yang banyak mengalami keruntuhan karena kefasikan yang menimpanya
Akankah engkau bagaikan seorang perempuan yang tetap diam membisu dan tidak mau membuka mulutmu untuk berbicara, karena ada ikatan di mulutmu?
Bukankah sudah saatnya engkau muncul dari persembunyian, bangun terbang bagaikan burung yang bersiul dan bernyanyi riang menyongsong kedatangan fajar, dan berbenah diri untuk membesarkan dan mengagungkan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi?
Bangunlah Gunung Batu Sion atau Puteri Yerusalem, bertasbihlah memuji Tuhanmu, besarkanlah nama-Nya Yang Tinggi Luhur, Allah Abraham/Ibrahim dan Allah Yakub/Israel
Biarlah gunung-gunung dan burung-burung bertasbih memuji Allah Tuhan semesta alam, Yang membuat langit dan bumi seisinya, matahari dan bulan serta bintang-bintang yang ditaruh untuk penerang siang dan malam
Biarlah laut dan samudera raya bersorak sorai dan memuji Tuhan Allah semesta alam, karena hanya Dia-lah yang bisa menenangkan gelora ombak-Nya yang menggulung dan menggunung menerjang
Hutan dan pohon-pohon biarlah mengeluarkan buah-buahannya yang bisa dimakan binatang-binatang atau dabbah di muka bumi-Nya sehingga bisa kenyang dan tidak kelaparan lagi
Maka doa syafaatmu wahai Puteri Yerusalem atau Puteri Sion yang kami harapkan, karena hanya engkaulah yang bisa mendekati dan membangunkan Tuhan Allah semesta alam, Allah Israel
Karena merdu suaramu dan manis seperti madu, suci hatimu seputih susu dan salju, harum bau pakaianmu seperti bau gunung Libanon yang dahulu kala banyak ditanami kebun anggur di sana
Siapakah yang dapat memahami dan mengambil hikmah dari perumpamaan-perumpamaan ini kalau bukan para imam, pemuka/pemimpin, ulama, cendekiawan dan ulil amri
Mungkinkah belum waktunya bagi umat Tuhan Allah semesta alam, Allah Yang menguasai kerajaan langit dan bumi, untuk merenungkan dan memikirkan bahwa tanah suci Yerusalem dan sekitarnya saat ini masih banyak menjadi reruntuhan yang belum dibangunkan lagi
Sesungguhnya perumpamaannya kota Sion atau Yerusalem seperti seorang puteri yang cantik tapi masih tidur pulas belum ada yang membangunkannya agar ia berbenah diri karena hari sudah siang
Bangunlah wahai Kota Sion atau Puteri Yerusalem, bukankah engkau dahulu perumpamaannya seperti seorang perempuan yang cantik jelita pujaan alam semesta karena engkau sempurna adanya
Namun sekarang engkau bagaikan seorang puteri yang cantik jelita namun terikat dan terkubur dalam debu dan abu karena beban-beban atau kuk yang berat di tengkuk lehermu dan ada jeratan di kaki dan tanganmu sehingga tetap terbaring dalam kesendirianmu
Sebenarnya engkau berteriak minta tolong, namun karena sangat lemah suaramu bagaikan suara burung merpati sehingga tidak terdengar ratapan dan tangisanmu
Tahukah engkau bahwa suara nyanyian yang merdu dari mazmur Daud, diringi gambus dan kecapi serta tarian rebana, maupun suara seruling yang nyaring akan membangunkanmu
Bangunlah wahai kota yang sunyi sepi ditinggalkan penduduknya, kota yang menjadi janda karena ditinggal suaminya, kota yang banyak mengalami keruntuhan karena kefasikan yang menimpanya
Akankah engkau bagaikan seorang perempuan yang tetap diam membisu dan tidak mau membuka mulutmu untuk berbicara, karena ada ikatan di mulutmu?
Bukankah sudah saatnya engkau muncul dari persembunyian, bangun terbang bagaikan burung yang bersiul dan bernyanyi riang menyongsong kedatangan fajar, dan berbenah diri untuk membesarkan dan mengagungkan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi?
Bangunlah Gunung Batu Sion atau Puteri Yerusalem, bertasbihlah memuji Tuhanmu, besarkanlah nama-Nya Yang Tinggi Luhur, Allah Abraham/Ibrahim dan Allah Yakub/Israel
Biarlah gunung-gunung dan burung-burung bertasbih memuji Allah Tuhan semesta alam, Yang membuat langit dan bumi seisinya, matahari dan bulan serta bintang-bintang yang ditaruh untuk penerang siang dan malam
Biarlah laut dan samudera raya bersorak sorai dan memuji Tuhan Allah semesta alam, karena hanya Dia-lah yang bisa menenangkan gelora ombak-Nya yang menggulung dan menggunung menerjang
Hutan dan pohon-pohon biarlah mengeluarkan buah-buahannya yang bisa dimakan binatang-binatang atau dabbah di muka bumi-Nya sehingga bisa kenyang dan tidak kelaparan lagi
Maka doa syafaatmu wahai Puteri Yerusalem atau Puteri Sion yang kami harapkan, karena hanya engkaulah yang bisa mendekati dan membangunkan Tuhan Allah semesta alam, Allah Israel
Karena merdu suaramu dan manis seperti madu, suci hatimu seputih susu dan salju, harum bau pakaianmu seperti bau gunung Libanon yang dahulu kala banyak ditanami kebun anggur di sana
Siapakah yang dapat memahami dan mengambil hikmah dari perumpamaan-perumpamaan ini kalau bukan para imam, pemuka/pemimpin, ulama, cendekiawan dan ulil amri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar